Arsip mwmag  [Up]© 2002 PT Masterweb Media

Menanti ‘Penguasa’ Baru Dot-Org

Saat ini, top level domain (TLD) .org bak janda kembang yang menjadi sorotan cowok sekampung. Berduyun-duyun para kumbang datang untuk meminang dengan berbagai tawaran menarik.

Sejak The Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) merilis pengumuman pencarian operator baru buat .org—yang bakal menggantikan VeriSign—pada April 2002 lalu, berlomba-lomba berbagai pihak memasukkan proposal. Rata-rata dari mereka adalah gabungan lembaga nonprofit dan profit.

Hingga 18 Jun 2002 yang dipatok sebagai batas akhir penerimaan proposal, telah muncul 11 nama yang dianggap memenuhi persyaratan awal. Asal tahu saja, salah satu syarat utama yang harus dipenuhi dan sempat menimbulkan kontroversi adalah uang pendaftaran sebesar $35.000 per peserta!

“Uang itu diperlukan untuk menutupi biaya-biaya penyeleksian peserta. Termasuk di dalamnya adalah biaya untuk menyewa ahli hukum dalam mereview proposal-proposal itu,” ujar Mary Hewitt, juru bicara ICANN, seperti dikutip Washtech.com.

Besarnya uang pendaftaran membuat mau tidak mau terjadi semacam seleksi alam. Hanya peserta yang mendapat dukungan dana kuat yang bisa bersaing. Lihat saja, dari daftar peserta yang telah lolos seleksi awal, terdapat sejumlah nama yang tidak asing lagi seperti eNom, Register.com, Afilias (operator .info), Global Name Registry (pengelola .name) dan bahkan VeriSign yang kekuasaannya atas .org bakal habis pada 31 Desember 2002.

Mereka-mereka itu masuk dengan menggandeng organisasi nonprofit sebagai ‘tiket’nya, karena seharusnya yang lebih diutamakan adalah lembaga nonkomersial. Seperti misalnya VeriSign yang menggaet Union of International Associations dan Global Name Registry dengan Palang Merah Internasional (International Red Cross).

Dengan masih munculnya nama VeriSign di deretan peserta menunjukkan si pemilik Netsol itu masih belum rela melepas .org dari tangannya. Padahal Januari 2002 kemarin dia barusan menambah ‘portfolio’ TLD yang dikelolanya dengan mengakusisi The .tv Corporation International, operator domain .tv milik negara Tuvalu.

Jadi, siapa yang bakal keluar sebagai suami baru atas pengelolaan .org? Tunggu saja akhir Agustus ini. Bakal ketahuan lamaran siapa yang diterima setelah dinilai bibit, bebet, dan bobotnya oleh tim juri ICANN.

Selamat Datang .pro!

Satu lagi top level domain (TLD) baru dari ICANN yang bakal segera berwara-wiri di mana-mana. Setelah belum lama ini berturut-turut mengeluarkan .biz, .info, dan .name, ICANN kembali mencetak ekstensi domain baru berlabel .pro. Meskipun secara resmi peluncurannya sudah dilakukan 19 Juni lalu, namun para calon pemilik harus bersabar karena TLD yang diperuntukkan untuk kalangan profesional itu baru akan ‘dihidupkan’ sekitar akhir tahun ini.

Buat para cybersquatter, jangan buru-buru mengasah kartu kredit Anda untuk segera mendaftarkan domain-domain keren. Mengapa? Pasalnya, oleh RegistryPro yang ditunjuk sebagai operator resminya, sistem pendaftaran untuk TLD baru itu akan sangat diperketat.

Selain hanya para profesional formal seperti pengacara dan akuntan publik bersertifikat saja yang dapat menggunakannya, juga para spekulan domain akan dihadang dengan biaya tahunannya yang luar biasa mahalnya terutama jika dibandingkan dengan TLD lain. Menurut juru bicara RegistryPro, Lisette Zarnowski, biaya tahunannya akan berkisar sekitar $250–300. Bandingkan dengan biaya domain .com yang paling mahal ‘hanya’ $35 per tahun.

Meskipun pendaftarannya sesulit begitu, pihak operator resmi yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Register.com itu, optimis barang jualannya tetap akan laku keras.

“Di seluruh dunia ada sekitar 35 juta profesional yang memenuhi syarat untuk itu. Dan 75% dari mereka mengatakan bahwa mereka lebih memilih .pro daripada TLD lain,” ujar CEO RegistryPro, Sloan Gaon, dengan yakin kepada InternetNews.com. Barangkali Sloan juga yakin, domain .pro ini mencerminkan tingkat kepercayaan dan gengsi yang cukup tinggi, karena tidak semua orang mudah mendapatkannya. Tapi, di mana-mana perlu diakui bahwa harga bicara. Apakah orang akan lebih memilih .pro ketimbang .com atau TLD lain yang sudah ada? Kita tunggu saja apakah betul ‘jualan’ si Om Gaon itu akan benar-benar laku atau bernasib sama dengan TLD-TLD baru lainnya yang jalannya agak terseok-seok. Selamat berjuang .pro! (ben)

Arsip mwmag  [Up]www.master.web.id/mwmag